Thursday, 28 December 2017

PIAGAM GUMI SASAK : Revolusi Sasak Di Mulai Dari Diri Sendiri
 Narasumber : Murahim, M.Pd



     Suku sasak merupakan salah satu suku di NTB yang bermukim di Lombok. Keramahan serta kearifan suku ini sudah tidak diragukan lagi. Adapun tradisi yang sangat populer dikalangan masyarakat adalah tradisi nyongkolan dan gendag beleq. Namun sangat disayangkan , bahwa banyak oknum yang ingin merusak citra bangsa sasak. Misalnya saja gendang beleq yang “katanya” merupakan alat kesenian Bali. Kekeliruan dan kesalahan sumber sejarah inilah yang membuat tokoh adat, akademisi, tokog agama serta tokoh masyarakat menggagas suatu manifesto kebudayaan atau yang kini kita sebut dengan Piagam Gumi Sasak. Pernyataan kebudayaan dalam piagam tersebut bahwa bangsa sasak bertauhid dengan sikap serta merdeka. Pada tanggal 26 Desember 2015 piagam gumi sasak pertama kali dibacakan oleh Dr. Mohammad Fadjri, MA di aula Museum Mataram NTB.
         Kami disini berjuang, bertanggung jawab demi mempertahankan kesasakan bangsaa sasak. Sasak itu sebagai suatu bangsa dengan karakter-karakter dan keluhuran budayanya itu sebagai amanah untuk kita yang sudah dianugerahkan sebagai bangsa sasak. Sebagai orang sasak hendaknya kita mengetahui budaya kita yang sesungguhnya, jangan hanya menerima dan menjalankan namun tidak tau sejarahnya. Sebenarnya, kata “Bangsa Indonesia” itu tidak ada, yang ada adalah Indonesia merupakan sekumpulan suku-suku bangsa. Bangsa sasak dalam piagam gumi sasak melebur diri dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
         Lahirnya piagam gumi sasak dikarenakan banyaknya kebohongan sejarah, penghapusan sejarah serta pengaburan sejarah. Selama ini kita bercermin kepada tulisan orang Belanda, Jepang dan Bali yang pernah menjajah bangsa sasak. Karena hal itu, mengapa tidak, kita sebagai bangsa sasak yang menulis sejarah kita sendiri dengan sumber yang telah ditemukan, misalnya kitab lontar dan babad lombok. Sesuatu yang kita pinjam dari budaya lain mari kita buang. Piagam gumi sasak bertujuan untuk membangun citra sejati sasak yang baru. Mari kita bangun jati diri kesasakan dan kembali kepada keluhuran nenek moyang kita yang dulu.




PIAGAM GUMI SASAK
BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM
Menjadi bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggung-jawabkan kepada Allah SWT dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan matarantai sejarah kemanusiaan, melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa Sasak yang terhampar di Gumi Paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jatidirinya yang sebenarnya.
Perjalanan sejarah bangsa Sasak yang diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jatidiri, sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingga saat ini, melalui pencitraan budaya dan sejarah Bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi Bangsa inferior yang tak mampu tegak di antara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanat kefitrahannya sebagai sebuah bangsa.
Sadar akan hal tersebut, kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK sebagai berikut:
Pertama:
Berjuang bersama menggali dan menegakkan jatidiri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak.
Kedua:
Berjuang bersama memelihara, menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.
Ketiga:
Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat:
Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
Kelima:
Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu, dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.
Mataram, 14 Mulut tahun Jimawal / 1437 H
26 Desember 2015

Ditandatangani bersama kami,
1. Drs. Lalu Azhar                            
2. Drs. H. Lalu Mujtahid                   
3. Drs. Lalu Baiq Windia M. Si.
4. TGH. Ahyar Abduh 
5. Drs. H. Husni Mu’adz MA., Ph. D.
6. Dr. Muhammad Fadjri, M.A.
7. Dr. H. Jamaludin M. Ag.
8. Dr. Lalu Abd. Khalik M.Hum.                  
9.  Drs. H. A. Muhit Ellepaki, M. Sc.            
10. Dr. H. Sudirman M. Pd.
11. Dr. H.L., Agus Fathurrahman
12. Mundzirin S.H.
13. L. Ari Irawan, SE., S.Pd., M. Pd.

26 comments:

  1. Kembangkan sangat bermanfaat infonya

    ReplyDelete
  2. budaya sasak harus kita jaga, sebab kalo bukan kita sebagai massyarakatnya siapa lagi yang akan menjaga dan mempertahankannya

    ReplyDelete
  3. Bagus sekali artikelnya... cocok dikembangkan

    ReplyDelete
  4. Kita sebagai bangsa sasak harus menjaga gumi paer

    ReplyDelete
  5. Ternyata sasak juga punya piagam ..baru tau saya

    ReplyDelete
  6. Menjadi tugas kita generasi muda lah untuk melestarikan budaya dan warisan luhur sasak ini

    ReplyDelete
  7. Untuk isinya sudah pasti bermanfaat dek, jempol dah��. Cuma ngasih saran buat penulisannya masih ada katakata yang typo. Jadi besok diperiksa kembali sama nyaranin pake rata kiri kanan biar lebih rapih. Oke adik syantik.��

    ReplyDelete
  8. Menarik sangaaad, keren kereen👍

    ReplyDelete
  9. Postingnnya sungguh Bermamfaat

    ReplyDelete
  10. Baru tau ttg info lombok khususny sasak..

    ReplyDelete
  11. Bagus banget menambah wawasan

    ReplyDelete

Sebuah Puisi : Negeri Lelucon

Negeri Lelucon Ha Ha Ha suaranya yang masih angkuh masih dengan lakon yang sama Negeri kaya, "Katanya" Ya, itu fakta bun...