NYONGKOLAN : ite epean (kepunyaan sasak)
Narasumber I : Sri
Rahayu
Nyongkolan
merupakan tradisi sakral yang dilakukan oleh suku sasak di Lombok yang
bertujuan untuk memperkenalkan pasangan masing-masing kepada masyarakat
sekitar. Hal ini dilakukan karena jika mereka ditemukan berduaan dijalan, tidak
akan menimbulkan fitnah atau opini dalam masyarakat sehingga perlu diadakan
pengenalan yang disebut “Nyongkolan”. Tujuan sesungguhnya dari nyongkolan itu
adalah menghantar mempelai wanita secara hormat untuk memuliakan dan
menghormati orang tuanya.
Tetapi
pada zaman dahulu tidak ada iring-iringan seperti nyongkolan saat ini yang
menggunakan Gendang Beleq maupun Kecimol. Pengantin dalam bahasa sasak biasanya
disebut “Peraje”. Sebelum melakukan tradisi nyongkol, pihak laki-laki mengirim
utusan atau perwakilan menuju rumah si perempuan untuk melakukan proses nyorong
atau sorong serah aji krame.
Biasanya
utusan tersebut diwakili oleh ketua adat dan para pemuda yang mengiringi
prosesi tersebut dengan membawa “sesantun”. Ketua adat berfungsi sebagai
pembicara dan para pemuda membawakan sesantun yang berisi uang diatas piring.
Setelah proses pembicaraan berlangsung antara ketua adat si laki-laki dengan
ketua adat si perempuan selesai, barulah sesantun yang dibawa oleh para pemuda
tersebut diberikan kepada perwakilan dari si perempuan dan disebut juga sebagai
uang “sholawat”.
Setelah
proses nyorong atau sorong serah aji krame tersebut selesai, barulah proses
nyongkol terebut dilakukan, namun harus menunggu perwakilan sorong serah aji
krame sampai ke rumah mempelai laki-laki. Semua masyarakat disekitar ikut larut
dalam pesta pernikahan yang biasa disebut “begawe”. Dahulu pengantin wanita tidak dirias seperti
nyongkolan pada saat ini, namun hanya menggunakan pakaian adat seadanya saja.
TRADISI NYONGKOLAN (PATUH KARYA)
Narasumber II : Lalu
Yudistira
Dalam bahasa Kotaraja Lombok
Timur Nyongkol biasanya disebut dengan kata “Nyombe”. Namun seiring dengan
banyaknya percampuran bahasa antar desa lain, maka sekarang ini banyak pula
masyarakat Kotaraja yang mengatakan nyongkol.
Nyongkolan
identik dengan kata “Begawe” sebab suku sasak akan merayakan pesta pernikahan
secara besar-besaran. Nyongkol sendiri merupakan tradisi suku sasak yang bisa
dikatakan sebagai tradisi wajib, sebab dengan adanya nyongkol ini maka tercapai
sudah salah satu kewajiban seorang laki-laki untuk membahagiakan mempelai
wanita (keluarga si perempuan).
Nyongkol
sebenarnya merupakan tradisi untuk mendekatkan anggota keluarga si laki-laki
dengan si perempuan yang telah melakukan ijab Kabul. Hal ini dilakukan agar
kedua keluraga bisa saling rangkul dalam segala hal. Misalnya saja setelah
melakukan nyongkol pada sore harinya, keluarga
laki-laki harus kembali lagi kerumah wanita pada malam harinya yang
disebut dengan “Bales Lampak Nae”.
Tak
bisa dipungkiri uforia nyongkol ini begitu besar terutama dikalangan masyarakat
yang haus akan pertunjukan. Misalnya saja sebelum nyongkol diadakan, pemilik
gawe atau orang yang mengadakan acara nyongkol membuat berbagai macam acara
seperti drama, ataupun tari jangger yang disuguhkan untuk menghibur masyarakat
sekitar.
Kesimpulan
:
Nyongkolan
merupakan tradisi sakral yang dilakukan oleh suku sasak di Lombok yang
bertujuan untuk memperkenalkan pasangan masing-masing kepada masyarakat
sekitar. Tujuan sesungguhnya dari nyongkolan itu adalah menghantar mempelai
wanita secara hormat untuk memuliakan dan menghormati orang tuanya.
Dalam proses nyongkolan terdapat pula tradisi
sorong serah aji krame yang merupakan salah satu syarat mufakat antara keluarga
mempelai wanita dengan laki-laki.
Tradisi nyongkol ini sebenarnya
memiliki filosofi yang sangat bagus dan religius. Mengangkat drajat wanita
dengan cara yang istimewa. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini tetap
berjalan namun dengan filosofi yang berbeda pula.
mantap dik susan
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteTerbaik
ReplyDeleteMakasi ernesta 👍
ReplyDeletePengen 😍
ReplyDeleteAdeng2 😂
ReplyDeleteLuar binasa, cerda sekali buk susan,saya terharu membacanya
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteIni seperti mahakarya
ReplyDeleteBermanfaat
ReplyDeleteMemang Nyongkolan "ite" ngepeang.
ReplyDeleteIsinya bermanfaat
ReplyDeleteMantap jiwa���� ������
ReplyDeletebagus dan terus kembangkan
ReplyDeleteSasak oke
ReplyDeleteSasak oke
ReplyDeleteMantaaap kembangkan terus ya biar semua org tau apa itu nyongkolan yg sebenarnya
ReplyDelete😈😉😄😉😆
ReplyDeletemantap jiwa
ReplyDeleteSubahannallah
ReplyDeleteAku padamu syaannn..
ReplyDeleteMakasih infonya san
ReplyDeleteterus lestarikan budaya sasaq
ReplyDeleteMantep
ReplyDeletesangat bermanfaat :)
ReplyDeleteMantap
ReplyDeleteMakasih infonya san
ReplyDeletemuehehehe santi kapan nikahnya ?
ReplyDeleteAji
Alhmdulillaah jadi referensi...
ReplyDeleteTrima kasih
Gomawo infonya mbak tapi kalo bisa narasumbernya ditambah ya 😁😊 fighting 💪💪
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteterus lestarikan budaya sasak
ReplyDelete